Banyak orang kaget ketika tahu bahwa perawatan sebuah pesawat bisa menghabiskan biaya miliaran rupiah sekali siklus. Bahkan untuk beberapa jenis pesawat, biaya maintenance dalam setahun bisa menyaingi harga sebuah gedung. Lalu muncul pertanyaan yang wajar: kenapa bisa semahal itu? Apakah pesawat memang setinggi itu biayanya, atau ada hal lain yang membuat perawatannya begitu kompleks?
Sebenarnya, perawatan pesawat bukan sekadar “service rutin” seperti mobil. Ini lebih mirip gabungan antara pemeriksaan medis lengkap, audit teknis, penggantian komponen, teknologi canggih, dan regulasi keselamatan tingkat internasional. Semua faktor ini bekerja bersama, dan masing-masing punya biaya yang tidak kecil.
Hal pertama yang membuat perawatan pesawat mahal adalah komponen dan suku cadangnya. Part pesawat tidak bisa dibeli sembarangan. Semua komponen harus berasal dari pabrikan resmi atau produsen yang sudah mendapatkan sertifikasi internasional. Setiap part memiliki dokumen lengkap tentang asal-usul dan riwayat pemakaian. Bahkan sebuah baut kecil yang disertifikasi untuk pesawat harganya bisa puluhan kali lipat dari baut biasa, karena standar keselamatan yang harus dipenuhi benar-benar ketat.
Selain suku cadang, tenaga kerja menjadi faktor biaya yang sangat besar. Teknisi pesawat tidak bisa sembarangan bekerja tanpa lisensi. Mereka harus mengikuti pelatihan panjang, menguasai detail teknis pesawat tertentu, dan terus memperbarui sertifikasinya. Jam kerja mereka diawasi ketat, karena satu kesalahan kecil saja bisa berdampak besar pada keselamatan penerbangan. Karena itu, tarif teknisi pesawat—terutama yang bersertifikasi—sangat tinggi dan wajar mengingat tanggung jawab mereka.
Biaya juga meningkat karena peralatan khusus yang digunakan dalam maintenance. Pesawat tidak diperiksa dengan alat biasa; banyak pemeriksaan menggunakan teknologi seperti borescope, X-ray, ultrasonic testing, mesin uji hidrolik, hingga alat Non-Destructive Testing yang harganya sangat mahal. Belum lagi hangar besar yang harus dipelihara, suhu yang dikontrol, dan peralatan pendukung lain yang tidak murah untuk dioperasikan.
Selanjutnya, ada faktor jadwal maintenance yang sangat terstruktur. Setiap pesawat memiliki jadwal perawatan yang ditentukan oleh jam terbang, siklus lepas-landas dan mendarat, serta kondisi operasional. Pesawat harus masuk maintenance meskipun terlihat normal. Ini bukan karena overprotective, tapi karena regulasi keselamatan dunia memang mensyaratkan perawatan rutin untuk mencegah kerusakan sebelum terjadi. Ketika pesawat masuk perawatan, ia tidak menghasilkan pendapatan—dan downtime ini juga menjadi biaya tidak langsung bagi maskapai.
Selain itu, faktor besar lainnya adalah regulasi keselamatan internasional. Industri penerbangan sangat ketat dengan standar, audit, dan dokumentasi. Semua pekerjaan maintenance harus dicatat dan dapat ditelusuri. Audit rutin dilakukan oleh otoritas penerbangan, baik nasional maupun internasional. Memenuhi regulasi ini membutuhkan tenaga ahli, sistem dokumentasi yang rumit, dan investasi besar pada teknologi manajemen data.
Di sisi lain, ada engine maintenance, yang sering disebut sebagai komponen paling mahal dari seluruh perawatan pesawat. Membongkar, memeriksa, dan merakit kembali satu mesin jet besar bisa memakan biaya miliaran rupiah. Mesin bukan hanya komponen mekanis, tapi kombinasi teknologi presisi, material tahan panas ekstrem, dan sistem elektronik yang sangat canggih. Bahkan kerusakan kecil pada mesin bisa memerlukan perbaikan yang mahal.
Terakhir, dunia aviasi juga sangat mengutamakan keamanan dan kualitas. Tidak ada kompromi. Pesawat harus dalam kondisi terbaik setiap kali terbang. Tidak cukup “masih bisa dipakai”—semua harus memenuhi standar optimal. Prinsip ini membuat biaya maintenance tinggi, tapi juga membuat penerbangan menjadi salah satu moda transportasi paling aman di dunia.
Jadi, ketika melihat tiket pesawat atau mendengar tentang biaya perawatan yang besar, sebenarnya yang kita bayar adalah keselamatan, keandalan teknologi, dan standar dunia yang menjaga pesawat tetap layak terbang. Biayanya memang tinggi, tetapi itulah yang memastikan kita bisa terbang dengan tenang di ketinggian 35.000 kaki.
